Pages

Labels

apapun (16) birthday (1) celotehan (32) cerpen (8) dongeng (1) family (6) Film (1) gaje (5) gift (4) hadits (13) imajinasi (1) ISLAM (48) jingga (6) kerajaan (1) kuliah (3) L (2) mimpi (1) novel. (1) poetry (2) puisi (2) sahabat (5) teman (1) Ulang Tahun (1)

Sabtu, 13 Oktober 2012

Rangkuman Buku : Seruan masuk Islam



Seruan Masuk Islam
 
(1)
Ketika pada suatu hari Rasulullah akan mengirim surat kepada beberapa raja, para sahabat berkata, “Ya Rasulullah! Raja-raja itu tidak akan mau membaca suatu surat, kecuali bila dibubuhi suatu stempel (cap).” Karena itu Rasulullah s.a.w. segera memerintahkan sahabatnya agar membuat stempel yang berukir tulisan: Muhammad Rasulullah. Setelah semua surat itu di cap dengan stempel ini, Rasulullah segera memilih orang-orang yang akan diberi tugas mengantarkannya kepada para raja di dunia.
Rasulullah menerangkan:
“Mereka diminta seperti yang kuminta dari kalian. Bila mereka diutus ke tempat yang dekat, mereka bersedia. Tetapi bila di utus ke tempat yang jauh, mereka menolak! Karena itu, Isa a.s. lalu mengadu kepada Allah Azza Wa Jalla. Akibatnya, setiap orang yang akan dikirim diberi kemampuan berbicara dengan bahsa kaum yang akan dituju . . . ” jawab Rasulullah, menjelaskan.
Berkat kebijaksanaan Rasulullah itulah, para sahabat tidak ada yang menawar seperti Kaum Hawari, bahkan mereka bersedia pergi kemana saja menurut kehendak Rasulullah!
(2)
Muhammad s.a.w. mengutus Dihyah Al-Kalby menemui kaisar Romawi untuk memeluk Islam. Maka berangkatlah Dihyah ke Syamlangsung menuju istana raja. Setelah diberi izin masuk, para pegawai istana berpesan kepada Dihyah, “bila telah melihat raja, Anda harus segera bersujud kepadanya, dan jangan mengangkat kepala sebelum diperintah!”
Tapi Dihyah menjawab, “Tidak! Aku tidak akan lakukan itu; dan aku tidak akan sujud selain kepada Allah!”
“Bila demikian,” kata pegawai istana, “Raja tidak akan menerima suratmy.”
Namun Dihyah tetap menghadap raja dengan kepala tegak; tidak sujud kepada raja, dan langsung menyerahkan surat. Tentu saja sang Kaisar merasa heran. Dan setelah menerima surat, yang berisikan ajakan Muhammad s.a.w. agar raja memeluk Islam. Kaisar, yang ingin tahu siapa Muhammad, lalu berkata kepada para pembantunya:
“Coba carikan seseorag dari kaumnya. Aku akan menanyakan tentang dia!”
Maka pergilah para pembantu raja itu ke pasar-pasar Syam. Kebetulan mereka bertemu dengan Abu Sufyan yang sedang berjualan di pasar Ghazzah bersama beberapa orang Quraisy. Lalu Abu Sufyan dan orang-orang Quraisy masuk ke Balairung. Kebetulan sang raja sedang duduk di singgasana dengan mahkota di kepalanya, dikelilingi pembesar-pembesar Rum.
Kepada juru bahasanya, Sang Raja berkata:
“Tanyakan siapa di antara mereka yang paling dekat hubungan kerabat dengan orang yang mengaku Nabi ini!”
“Aku yang paling dekat hubungan kerabat dengannya,” sahut Abu Sufyan.
“Bagaimana jalannya peperangan?”
“Berganti-ganti, sekali kami menang dan sekali dia yang menang!”
“Apa yang ia minta dari kalian?”
“Ia menyuruh kami untuk menyembah Allah Yang Tunggal dan tidak menyekutukan-Nya dengan yag lain, serta melarang kami menyembah apa yang disembah oleh nenek moyang kami. Ia pun menyuruh shalat, bersedekah, dan menyuruh kami menepati janji serta memegang amanah!”
Sekalipun membenci Muhammad, namun Abu Sufyan tidak berani berdusta. Singkatnya, semua pertanyaan raja itu dijawab Abu Sufyan secara jujur, apa adanya, karena orang-orang Quraisy juga menyaksikan di situ. Dan ia tidak ingin dijuluki “pendusta” oleh kaumnya!
Demi mendengar keterangan Abu Sufyan, maka Kaisar pun berkata:
“Bila demikian, sungguh ia seorang Nabi. Aku mengetahui bahwa Nabi yang ditunggu kini telah lahir, tetapi aku tidak menduga bahwa Nabi itu dari golongan kalian! Seandainya aku berada di tempatnya, pasti akan aku basuh kedua telapak kakinya.”
Abu Sufyan meninggalkan istana denga rasa heran. Dia heran memikirkan keadaan Muhammad s.a.w. yang bertambah menanjak pamornya!
(3)
Rasulullah s.a.w. juga menulis surat kepada Kisra, Raja Persia.
Surat tersebut dibawa oleh Abdullah bin Hudzafah untuk disampaikan kepada Kisra.
Dan Kisra Persia pun membaca surat tersebut. Tetapi setelah melihat surat itu dimulai dengan kata-kata, “Dari Muhammad Rasulullah kepada Kisra Raja Persia”, Sang Raja pun marah dan menjadi berang. Sebab Muhammad s.a.w. memulai suratnya dengan lebih dahulu menyebut dirinya. Maka surat itu pun di robek-robeknya.
Ketika Abdullah melaporkan kepada Rasulullah s.a.w. bahwa Kisra merobek-robek suratnya, Rasulullah berkata:
“Semoga Allah merobek-robek kerajaannya!”
“Sesungguhnya sekelompok kaum Muslimin akan membuka dan menguasai simpanan Kisra yang ada di istana putih.”
Dan benar apa yang dikatakan Raslullah itu.
(4)
Disamping mengirim surat kepada Kaisar Romawi dan Kisra Persia, Rasulullah juga mengirim surat kepada Najasyi. Surat tersebut dibawa oleh Amru bin Umayyah, pelindung kaum Muslimin ketika mereka hijrah ke Habsyah. Mereka dihormati dan dipersilahkan hadir ke tempat pertemuannya. Begitu surat itu diserahkan oleh Amru bin Umayyah, surat tersebut segeradicium oleh Sang Raja, diletakkan di atas kepala dan kedua matanya. Lalu Raja Najasyi turun dari singgasana sebagai penghormatan, bahkan terus menyatakan masuk Islam dan bersyahadat, bahwa “sesungguhnya tiada Tuhan kecuali Allah dan bahwa sesungguhnya Muhammad utusan Allah.”
Sesudah itu, Raja Najasyi menulis surat kepada Rasulullah s.a.w. sebagai jawaban.
(5)

Surat Rasulullah kepada Muqauqis raja Qibthi(Mesir) disampaikan oleh Hathib bin Abi Balta’ah. Tapi sebelum berangkat ke Mesir, ia pulang dulu ke rumah, pamit kepada istrinya. Perjalanan ke Mesir dilakukan dengan mengendarai untanya, menyusuri padang pasir, hingga sampai ke Mesir.
Setelah berada di Iskandariah, barulah ia tahu, bahwa raja sedang berada di istana yang “menjorok ke laut”. Karena itu Hathib terpaksa menggunakan rakit menuju istana Muqauqis.
“Sesungguhnya Nabi s.a.w. ini menyeru seluruh umat,” kata Hathib. “Adapun golongan yang paling memusihinya adalah kaum Yahudi, sedang yang paling dekat ialah kaum Nasrani. Dan sesungguhnya, berita gembira yang disampaikan Musa dengan akan datangnya Isa a.s. adalah sama halnya berita gembira yang disampaikan Isa a.s. dengan datangnya Muhammad s.a.w. Dan ajakan kami agar Anda kembali kepada AL-Qur’an adalah sama haknya dengan ajakan Anda kepada Ahli-Turat untuk kembali kepada Injil.”
Raja Mauqauqis sangan menghormati Hathib. Dan waktu Hathib pulang, Mauqauqis mempersembahkan dua sahaya kepada Rasulullah s.a.w., yaitu Marial Al-Qibthiah dan Sirin, serta bermacam-macam pakaian dan hadiah yang sangat banyak.
Semua utusan telah kembali kepada Nabi Muhammad s.a.w. Beberapa tahun kemudian, Persia, Syam dan Mesir masuk sebagai daerah Islam. Semua itu adalah negara-negara di mana Rasulullah pernah mengutus duta-dutanya supaya rajanya memeluk agama Islam.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar